DONASI PROGRAM JAMMAS JALAN MENUJU MASYARAKAT SEJAHTERA

DONASI PROGRAM JAMMAS JALAN MENUJU MASYARAKAT SEJAHTERA

BISMILLAH

DONASI PROGRAM JAMMAS

JALAN MENUJU MASYARAKAT SEJAHTERA

Bersama Ustadz Sugeng Mulyadi, S. Pd. I, M. Si

Konsultan & Koordinator Program JAMMAS

( Jalan Menuju Masyarakat Sejahtera )

ASSWRWB

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛

Kaum Muslimin Dan Muslimat Yang Di Rahmati Allah SWT !

Berikut Kami Sampaikan Cara Bergabung Menjadi Donatur Program Jammas :

  1. Daftarkan Diri Melalui Koordinator Program JAMMAS dengan mencantumkan : Nama Lengkap Bin / Binti, Tempat Dan Tanggal Lahir, Alamat Lengkap, No. Telpon  / HP / WA ke No. Kontak WA Koordinator Layanan Donasi JAMMAS di : 087738728524, 085217712901, 085225588909, 081339771144, 087839794608, 089637345132, 085921402988

  2. Setelah Data Diri Terkirim Ke Admin Program Jammas, Admin Akan Segera Memberikan No. ID Donatur ( B – ………. )

Cara Penyerahan Donasi Program Jammas :

  1. Penyerahan Donasi Dapat Dilakukan Melalui Transfer Langsung Melalui No. Rekening Program JAMMAS Bank Mandiri Cabang Indramayu No. Rekening: 134.00.0040506.7 a.n. JAMMAS Dengan mencantunkan No. ID Donatur Dan Nama Lengkap Bin / Binti Di Kolom Berita

  2. Mohon mengirimkan foto / copy Bukti Transfer Ke  Kontak WA Koordinator Tersebut Di Atas Untuk Dokumentasi Administrasi JAMMAS

  3. Bagi Para Donatur Yang Kesulitan Transfer Langsung Dapat Minta Bantuan Koordinator Untuk Memberikan Pelayanan Dan Bantuan.

 

MARI BERGABUNG DAN BERSATU DALAM MENGUKIR SEJARAH KEBANGKITAN UMAT MILENIUM KETIGA DENGAN MENGEMBALIKAN FUNGSI MASJID SEBAGAI PUSAT PERADABAN DAN KEBUDAYAAN

PROGRAM PENYELESAIAN PEMBANGUNAN MASJID RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN

Masjid Rahmatan Lil ’Alamin Monumen Kebangkitan Umat Milenium Ketiga

Mesjid-Rahmatan-Lil-Alamin-6

LEMBAGA KESEJAHTERAAN MASJID

MASJID RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN

Ma’had Al-Zaytun (MAZ) benar-benar merubah paradigma berpikir khalayak ramai dari anggapan bahwa pesantren itu kumuh menjadi pesantren itu bersih, megah, gagah dan modern. Segagah sejarah pesantren yang mampu bertahan melintasi berbagai tantangan dari sejak beberapa abad lalu hingga kini.
Semua bangunan gedung di ma’had modern komprehensif ini bukan hanya bersih, megah dan gagah untuk sesaat, melainkan dibangun berdaya tahan lebih lima ratusan tahun bahkan bisa puluhan abad, setara bangunan-bangunan monumental di dunia, yang sudah mengukir sejarah pada zamannya. Terutama bangunan Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin yang merupakan induk dari semua karya besar yang menumental di ma’had ini, yang kelak diyakini akan diukir sejarah sebagai simbol kebesaran dan kebangkitan bangsa ini.
Mesjid-Rahmatan-Lil-Alamin-2
Gaya arsitekturnya pun merupakan perpaduan menyeluruh dari semua gaya arsitektur yang ada di dunia ini. Gaya arsitektur bernilai estetika universal, yang di ma’had ini disebut sebagai gaya arsitektur rahmatan Lil ‘alamin.
Pendek kata, MAZ yang semua bangunan dan kegiatannya berpusat pada Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, dibangun sebagai sebuah kawasan pendidikan terpadu yang monumental dalam abad 21 ini. Hingga kelak, sampai  berabad-abad ke depan, MAZ akan dicatat sejarah menjadi sebuah monumen fenomenal milenium ketiga.
Diyakini, kelak, bagi generasi berikutnya, monumen ini akan bernilai sejarah setara dengan bangunan-bangunan monumental dunia yang sudah tercatat dalam sejarah zamannya masing-masing. Seperti, bangunan monumental Islam kompleks Masjid Cordoba, Istana Al-Hamra dan Medinat az-Zahra di Spanyol. Juga bangunan-bangunan monumental Romawi, Mesir, Dinasti Cina klasik, kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha yang bersejarah dan mampu bertahan ratusan sampai ribuan tahun.
Mesjid-Rahmatan-Lil-Alamin-9
Setiap bangunan yang didirikan di MAZ, diprogram harus memenuhi persyaratan pokok yakni berdaya tahan lama, aman untuk difungsikan sesuai hajat ma’had. Setiap bangunan itu harus cukup kuat dan berkemampuan memikul pembebanan yang terjadi baik pembebanan vertikal maupun horizontal dalam jangka waktu lama. Kekuatan itu dirancang dengan penggunaan kekuatan elemen-elemen (material) konstruksi berkualitas dan proses pengerjaan yang telaten dan cerdas.
Dalam hal sistem kontrol mutu bangunan dilakukan dengan sistem pengendalian sumber daya yang disebut BMW, singkatan dari biaya, mutu dan waktu. Semua dikontrol sejak awal, baik mutu manusia, mutu bahan bangunan maupun mutu peralatan bangunannya.
Salah satu hal yang amat menarik dalam proses dan sistem pembangunan di Ma’had Al-Zaytun, semua dilakukan oleh tenaga profesional ma’had sendiri yang teruji handal dan memegang prinsip ibadah, akhlak dan amanah. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pemeliharaan berada dalam satu manajemen internal yang terpadu dan terkendali tanpa batas waktu, 24 jam setiap harinya.
Dengan manajemen pembangunan seperti ini, bukan saja kualitas bangunannya yang bisa dijamin, juga soal pembiayaannya yang jauh lebih rendah, 1 : 3. Artinya, pembiayaannya hanya 1/3 dari biaya jika dikerjakan secara konvensional. Maklum, di MAZ ini selain tidak ada birokrasi yang panjang dan berbelit, juga dijamin tidak ada korupsi.
Sistem manajemen dan proses pembangunan di MAZ ini tidaklah asal ada dan asal jadi. Sejak awal Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) telah merencanakannya sedemikian matang. Kemudian dibentuk tim pelaksana pembangunan pada pertengahan Mei 1995. Tim pembangunan itu menerima amanah untuk bertugas dan bertanggung jawab mewujudkan bangunan-bangunan yang dihajatkan sebagaimana telah direncanakan dalam bentuk master plan Ma’had Al-Zaytun. Master plan itu ditetapkan bersama di bawah pimpinan Syaykh al-Ma’had AS Panji Gumilang, selaku grand architect-nya.
Kemudian, dalam perkembangan berikutnya, untuk memperkuat perencanaan, termasuk bidang arsitektur, Tim Ma’had Al-Zaytun yang langsung dipimpin oleh Syaykh al-Ma’had AS Panji Gumilang, dengan anggota tim M Natsir Abdul Qadir, M Yusuf Rasyidi dan Ir Bambang Abdul Syukur, melakukan studi banding ke Eropa, khususnya ke Andalusia. Studi banding ini, selain menyangkut hal yang berkaitan dengan masalah pendidikan pada umumnya, juga secara khusus menelusuri lengkung-lengkung arsitektur dunia yang mengundang kekaguman umat manusia sampai ratusan tahun.
Kunjungan itu telah pula memperluas wawasan dan memompakan spirit yang lebih besar serta meresapkan sentuhan-sentuhan keindahan karya-karya besar arsitektur klasik dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan ma’had ini. Semua masukan itu memberi kekayaan ide arsitektur bernilai karsa dan estetika tinggi dan universal dalam rancang bangun gedung-gedung di Ma’had Al-Zaytun, terutama rancang bangun Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin.
Maka jika mengamati seluruh konstruksi dan arsitektur bangunan di ma’had ini, terutama rancang bangun dan arsitektur Masjid Rahmatan Lil ’Alamin, tak berlebihan bila perencana dan arsitek di MAZ ini dapat disejajarkan dengan arsitek Abbasiyah yang membangun kompleks Masjid Cordoba, Istana Al-Hamra dan Medinat az-Zahra di Spanyol. Atau Salman al-Farisi yang merancang pembuatan khandaq (parit) yang mengelilingi kota Madinah.
Sebagaimana karya arsitek Abbasiyah dan Salman al-Farisi yang dicatat dalam sejarah zamannya masing-masing, begitu pula karya tim perancang pembangunan MAZ ini kelak pantas dicatat sejarah zamannya yang membangun bangunan-bangunan monumental yang kelak menjadi bukti sejarah kebangkitan Islam dan kebangkitan bangsa ini.
Masjid Rahmatan Lil ’Alamin
Masjid adalah inti dan pusat kegiatan seluruh penghuni Ma’had Al-Zaytun (MAZ). Di kampus ini santri dilatih dan dibiasakan hidup beribadah, melaksanakan salat baik itu Isya, Subuh, Zuhur, Asar dan Magrib secara berjamaah, sekaligus berdisiplin dalam tradisi kepesantrenan, namun hidup dalam suasana dan manajemen modern.
Untuk itu pertama kali dibangun Masjid Al-Hayat, sebagai masjid persiapan I’dadi, di atas tanah seluas 5.000 m2 berlantai tiga berdaya tampung kurang lebih 7.000 jamaah. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada 1 Januari 1999 dan pengerjaannya selesai dalam kurun waktu 3 bulan. Kemudian, sehubungan pesatnya pertambahan jumlah santri dan penghuni MAZ menyebabkan Masjid Al-Hayat sudah tidak mampu lagi menampung jamaah, baik pada hari-hari biasa maupun Jumat.
Sehingga MAZ harus secepatnya membangun sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Rahmatan Lil ’Alamin. Masjid ini berdiri di atas tanah 6,5 hektar, berukuran seluas 99 x 99 m berlantai 6 (enam), yang dapat menampung 150.000 jamaah. Sebuah masjid terbesar di dunia. Masjid yang tengah dibangun ini memerlukan biaya kurang lebih 14 juta dollar Amerika atau sekitar Rp 135 milyar. Setelah Masjid Rahmatan Lil ’Alamin digunakan, bangunan Al-Hayat akan difungsikan menjadi perpustakaan MAZ.
Mesjid-Rahmatan-Lil-Alamin-Pondasi
Peletakan batu asas masjid Rahmatan Lil ’Alamin  dilakukan pada tahun baru Hijriah 1 Muharam 1421 H oleh R Nuriana, Gubernur Jawa Barat saat itu. Pembangunan masjid ini boleh dibilang merupakan satu tonggak sejarah pembangunan sebuah simbol dan monumen kebesaran umat Islam di negeri ini. Di samping memiliki areal yang luas dengan daya tampung yang besar, Masjid Rahmatan Lil ’Alamin, juga mempunyai seni artistik yang tinggi, ditambah dengan dom (kubah) yang besar yang dilapisi bahan seperti emas yang maknanya agar Indonesia dapat tampil berkualitas emas.
Suasana saat berlangsungnya pelaksanaan acara peletakan batu asas tersebut begitu meriah. Selain Gubernur Jawa Barat turut hadir pula seluruh Kepala Daerah Tingkat dua yang ada di Jawa Barat, juga kelompok-kelompok pengajian yang datang dari berbagai penjuru Indonesia dan para undangan dari dalam negeri serta dari negeri jiran Singapura dan Malaysia, ditambah ribuan masyarakat yang ingin berpartisipasi bersodaqoh untuk pembangunan masjid Rahmatan Lil ’Alamin.
Kemudian, peletakan batu pertama masjid Rahmatan Lil ’Alamin ini dilangsungkan setelah masa 100 hari sejak dimulainya perletakan batu asas. Bermakna bahwa selama 100 hari setiap tamu yang berkunjung ke MAZ diperkenankan untuk ikut andil meletakan batu asasnya.
Sebagai simbol keberadaan umat Islam, sudah barang tentu apabila pembangunan sebuah masjid menggambarkan nilai-nilai keimanan dan ajaran-ajaran Islam itu sendiri, sebagaimana diuraikan oleh Syaykh al-Ma’had Dr Abdussalam Panji Gumilang dalam penjelasannya mengenai filosofi pembangunan masjid Rahmatan Lil ’Alamin.
Luas bangunan 99 x 99 m merupakan filosofi dari sifat-sifat Allah (Asmaul Husna) yang berjumlah 99. Bila diputar ke arah mana saja, angka ini tidak akan pernah berubah, bermakna selalu punya nilai yang sama yaitu 99. Sedangkan, filosofi enam lantai masjid adalah Arkanul Iman, rukun iman yang berjumlah enam. Keenam lantai tersebut secara keseluruhan mempunyai ketinggian 33 m yang mempunyai filosofi jumlah tasbih, tahmid dan takbir setelah salat. Tinggi tiang masing-masing lantai lima meter, ini mempunyai filosofi Arkanul Islam, rukun Islam yang berjumlah lima.
Selain memiliki kubah yang besar masjid Rahmatan Lil ’Alamin juga dilengkapi dengan kubah yang kecil sebanyak empat buah. Filosofinya sebagai perwujudan bahwa Indonesia mengenal berbagai madzhab. Juga mempunyai menara yang tingginya 68 m, dengan luas lantainya 24x 24 m, ini filosofinya adalah Al-Khulafa al-Rasyidun.
Pada kesempatan peletakan asas itu juga bagi seluruh undangan baik itu kelompok ataupun perorangan yang ingin bersodaqoh, diminta tampil ke atas panggung dengan menyebutkan berapa banyak jumlah yang ingin disodaqohkan baik itu berupa uang ataupun semen. Setelah itu, mereka semua ikut berpartisipasi dalam perletakan batu asas. Dari sodaqoh para undangan tersebut diperoleh dana yang besarnya puluhan milyar rupiah bahkan hampir mendekati jumlah dana yang dianggarkan yaitu sebesar 14 juta dolar AS (Rp 135 milyar).
Dimulai dari Jakarta yang menamakan kelompok pengajian Falatehan Jayakarta bersodaqoh 3.000 tiang, atau sebesar 30 milyar rupiah. Kemudian kelompok pengajian Parahiyangan Bandung bersodaqoh 1.000 tiang, atau sebesar 10 milyar rupiah. Kelompok Ronggo Warsito Jawa Tengah bersodaqoh sebesar 10 milyar rupiah. Kelompok pengajian Tombo Ati Jawa Timur bersodaqoh sebesar 10 milyar rupiah. Kelompok Pengajian Sunan Gunung Jati Cirebon bersodaqoh sebesar 2,5 milyar rupiah, Malaysia RM 12.000 atau sebesar 3,5 milyar.
Kemudian, kelompok pengajian Lancang Kuning Riau bersodaqoh sebesar 30 juta rupiah. Kelompok pengajian asal Lampung 50 juta rupiah, kelompok pengajian Bali 20 juta rupiah, dan kelompok pengajian Sumatera Barat 20 juta rupiah. Kelompok pengajian Sumatera Selatan 50 juta rupiah. Kelompok pengajian Kalimantan Timur 20 juta rupiah.
Kelompok pengajian Timor Lorosae 10 juta rupiah, dan kelompok pengajian NTB 30 juta rupiah. Kelompok Pengajian Jambi 20 juta rupiah. Wali santri asal Kalimantan Selatan 300 sak semen. Kelompok pengajian Bengkulu 26 juta rupiah. Kelompok pengajian Kalimantan Barat 20 juta rupiah. Eksponen yayasan 250 tiang atau sebesar 2,5 milyar. Keluarga Bapak Salim 120 juta, dan masih banyak lagi yang kesemuanya ini tentunya merupakan perwujudan kebesaran dan kesatuan umat Islam.
Arsitektur Dunia
Pelaksanaan pembangunan masjid ini dilakukan dengan telaten. Untuk sistem pondasi, misalnya, dibuat dengan sistem pondasi kapal. “Sebenarnya, nama resminya raft foundation atau pondasi rakit. Namun, kalau rakit maknanya kecil maka kami sempurnakan menjadi pondasi kapal,” jelas Ir Djamal M Abdat, Pimpinan Tanmiyah MAZ.
Sementara, untuk menyempurnakan desain Masjid Rahmatan Lil ’Alamin, Syaykh al-Ma’had, langsung memimpin tim beranggota M Natsir Abdul Qadir, M Yusuf Rasyidi dan Ir Bambang T Abdul Syukur, pada akhir Oktober melakukan perjalanan ke Spanyol untuk melihat secara langsung model arsitektur di Al-Hambra, Cordoba yang terkenal itu. Kemudian ke Mesir, untuk melihat model bangunan arsitektur masjid-masjid bersejarah yang punya nilai arsitektur yang tinggi.
Dalam aplikasi gaya arsitektur, semuanya dipertimbangkan secara matang. Gaya itu harus punya nilai estetika universal, tidak cenderung kepada suatu etnik lokal atau antipati terhadap nilai-nilai estetika tertentu. Syaykh al-Ma’had selalu berpesan, tidak ada dikotomi arsitektur Islam, gothic atau tradisional.
Arsitektur Masjid Rahmatan Lil ’Alamin dibuat dengan memadukan model arsitektur di seluruh dunia. Hal ini dilakukan karena Masjid Rahmatan Lil ’Alamin akan menjadi sebuah masjid monumental karya umat Islam di abad 21 ini akan menjadi rahmat bagi semua orang. Gaya arsitekturnya merupakan perpaduan menyeluruh dari semua gaya arsitektur yang ada di dunia ini.
Bahkan, rencananya masjid ini akan dilapisi oleh granit, mulai seluruh lantai dan dindingnya. “Untuk keperluan ini tak kurang dari 70.000 meter persegi granit yang dibutuhkan”, jelas Syaykh al-Ma’had. Dan sesuai dengan namanya Rahmatan Lil ’Alamin, masjid yang akan menebar rahmat, menebar kasih hingga akan tercipta hubungan silaturahmi yang tidak ada putus-putusnya.
Sepenggal Pengalaman Pekerja
Barangkali menarik dikisahkan sepenggal pengalaman para pekerja kontruksi yang terlibat dalam pembangunan Masjid Rahmatan Lil ’Alamin ini. Terutama mereka yang bekerja di ketinggian ketika merangkai kerangka lengkung struktur pembentuk kubah besar masjid ini. Bekerja di ketinggian bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sembarang orang. Orang yang takut ketinggian jangan harap bisa melakukannya. Selain itu, mereka harus memiliki ketahanan mental dan fisik, sebab pada ketinggian 40 meter ke atas, angin berhembus lebih kencang daripada di daratan. “Di ketinggian 15 meter saja angin sudah kencang,” kata salah seorang karyawan MAZ sub unit erection
Mesjid-Rahmatan-Lil-Alamin-kubah
Sekadar pembanding, memanjat sebuah tower transmisi listrik saja sudah memerlukan tenaga besar. Sampai di atas bukan tujuan akhir melainkan hanya sebuah langkah awal. Di ketinggian itu mereka mesti melakukan pekerjaan spesifik yang terkadang dilakukan sambil berdiri di atas sebatang besi kerangka. Begitu pula dalam proses ereksi kerangka bangunan yang di MAZ seluruhnya menggunakan baja WF. Terkadang seorang petugas mesti bergelayutan di rangka-rangka baja yang sedang dikerek tower crane.
Pemandangan menegangkan begitu terasa ketika para petugas sub unit erection tengah merangkai kerangka-kerangka lengkung struktur pembentuk kubah besar mesjid ini. Bayangkan mereka harus bergelayutan dan memanjat baja WF lengkung sepanjang 24 m di atas ketinggian 80 m untuk menyambung belalai-belalai WF pembentuk kubah besar itu. Atau ketika harus mengencangkan baut-baut perangkai dan kemudian mengelasnya.
Menurut A Daud yang sejak awal menjadi komandan unit pabrikasi, setiap pekerja di unitnya dituntut mampu mengelas, sebab semua rangkaian konstruksi baja, selain diikat dengan baut mesti diperkuat dengan sambungan las. Pada saat-saat seperti ini keseimbangan tubuh menjadi vital. Salah, tak seimbang atau grogi, nyawa menjadi taruhannya. Bagi orang yang takut ketinggian, jangankan untuk merangkai struktur baja yang beratnya berton-ton, berdiri di sebatang WF saja pasti sudah gemetar. Terlalu lama, keringat dingin bisa mengucur.
Tak salah jika para pekerja spesialis perangkai konstruksi baja merupakan para pekerja yang betul-betul sudah teruji. Sebagai contoh, di sub unit erection MAZ, seseorang yang diperkenankan bekerja di ketinggian telah melalui proses seleksi alam. Pertama sekali jika mampu bekerja merangkai baja hingga satu lantai, ditingkatkan hingga dua lantai. Begitu seterusnya. Menurut salah seorang karyawan unit ini, suatu ketika salah seorang rekan berkeringat dingin, padahal baru di ketinggian dua lantai.
Komandan unit yang bijaksana akhirnya memutuskan rekan tersebut tak lagi bertugas di ketinggian. Keputusan seperti itu menjadi bagian terpenting dalam proses pekerjaan konstruksi. Bagaimanapun, keselamatan kerja tak boleh terabaikan. Terkadang kelalaian kecil berakibat besar. Satu baut kendur, terkadang harus dibayar dengan kecelakaan kerja. Jelas, hal-hal seperti itu mesti diantisipasi dengan sebuah sistem. Maka, sebelum memulai pekerjaan setiap komandan sub unit tak boleh alpa mencek kesiapan personil dan peralatan kerja yang digunakan mengingat wilayah kerja unit ini berisiko tinggi.
Setelah melihat keanggunan dan keagungan masjid ini, meski belum rampung seluruhnya, hasil jerih payah para pekerja itu terasa menjadi suatu kebanggaan dan kehormatan yang nilainya lebih besar dari jerih payah dan segala risiko yang mereka hadapi itu.
Masjid ini adalah sebuah karya besar yang patut dicatat sebagai simbol kebangkitan bangsa ini. Bahkan lebih dari itu, sebagai simbol pengagungan dan ketaqwaan manusia kepada Allah.
Kini (Juni 2005), kendati belum rampung, masjid yang direncanakan mampu menampung 150 ribu jamaah itu telah digunakan dalam berbagai acara besar, seperti Idul Fitri, Idul Adha, peringatan 1 Muharram dan acara-acara besar lainnya.  Dalam acara-acara itu pulalah dilakukan penggalangan dana untuk pembangunan Masjid Rahmatan Lil ’Alamin dari jamaah yang hadir.
Master Plan dan Sistem Manajemen
Semua proses pembangunan prasarana dan sarana di Al-Zaytun bermula dan berpedoman pada master plan yang telah ditetapkan bersama di bawah pimpinan Syaykh al-Ma’had. Kebersamaan atau team work adalah hal yang menonjol dan mutlak di ma’had ini. Team work yang taat pada suatu sistem dengan segala pranatanya mulai dari yang tertinggi sampai terendah.
Semua eksponen, termasuk karyawan pembangunan, sangat menyadari dan memahami bahwa keberadaannya dalam suatu tim kerja adalah untuk ibadah kepada Allah, dan sepatutnya berakhlakul karimah baik kepada pimpinan, sahabat, bawahan maupun juga terhadap material dan peralatan pembangunan serta terhadap waktu. Di bawah pimpinan Syaykh al-Ma’had, yang bijak dan kebapakan, setiap eksponen memahami fungsi dirinya masing-masing dalam tugas dan tanggung jawabnya terhadap amanah yang diberikan kepadanya.
Sistem manajemen yang diterapkan di MAZ ini tidak sekadar sistem manajemen modern yang sudah teruji ampuh di tempat lain, melainkan lebih daripada itu, sistem manajemen yang dinaungi dan dibekali kedalaman iman dan taqwa. Sistem nanajemen yang berpegang pada ibadah, akhlak dan amanah. Manajemen Ilahiyah yang bermakna manajemen tauhid atau manajemen terpadu dalam satu kesatuan sistem. Tahapan-tahapan pembangunan proyek mulai dari perencanaan hingga pemeliharaan berada dalam satu manajemen terpadu dan terkendali.
Dalam sistem manajemen demikian itu, Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) sebagai induk organisasi Ma’had Al-Zaytun, pertama kali membentuk tim pelaksana pembangunan pada pertengahan Mei 1995. Tim inilah sebagai penerima amanah yang bertugas dan bertanggung jawab mewujudkan bangunan-bangunan yang direncanakan dalam master plan Ma’had Al-Zaytun yang telah ditetapkan bersama di bawah pimpinan Syaykh al-Ma’had.
Kemudian dibentuk Tim Pelaksana Pembangunan yang disebut sebagai Tim Tanmiyah. Tim Tanmiyah ini dipimpin oleh seorang ahli beranggotakan delapan tim pembangunan, terdiri dari arsitek, teknik sipil, mekanik dan kelistrikan serta dilengkapi beberapa penanggung jawab kepersonaliaan. Sementara untuk pelaksana di lapangan ditunjuk beberapa insinyur muda, mendukung tim inti yang juga turun ke lapangan sesuai keperluannya.
Tim Tanmiyah ini bekerja secara terpadu dan terkendali selama  24 jam setiap hari, mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pemeliharaan. Dengan sistem manajemen terpadu 24 jam, maka setiap instruksi tertangani secara cepat dan tepat. Selama 24 jam para karyawan mencurahkan tenaga mereka untuk menyempurnakan azam umat: sesuai maklumat Ma’had Al-Zaytun membangun monumen umat Islam yang akan dihadiahkan untuk umat Islam sedunia.
Pertama kali, Ir Djamal M Abdat, ditetapkan sebagai Rois ‘am Tim Tanmiyah, Ir Djamal M Abdat sebagai pemimpin tim dan dianggotai oleh Ir Asrur Rifa, Ir Bambang A.Syukur,  Ir Abdurrahman, Ir A Hanif dan Ir Armand AR dilengkapi personalia terdiri dari Abbas Ali Nasution selaku koordinator bersama Usman Azhari dan Rahmat Ramadhan.
Tenaga-tenaga profesional yang tergabung dalam tim pembangunan ini mengerjakan sendiri semua pekerjaan. Sejak awal antara konsultan dan kontraktor dibuat menyatu. Tidak dikenal main contractor dan sub contractor. Dengan sistem manajemen pembangunan seperti itu, banyak mata rantai yang diputus, sehingga tidak perlu mengeluarkan uang yang tidak seharusnya dibelanjakan. Semuanya dikerjakan sendiri. Keperluan besi, misalnya, yang dibeli bahan baku, lalu dipabrikasi sendiri, di-erection sendiri.
Sistem seperti ini terbukti mempunyai banyak keunggulan dan keuntungan dibandingkan dengan sistem proyek pembangunan yang lazim di luar MAZ. Selain untuk menghemat biaya juga menjaga mutu. Untuk setiap bangunan, biayanya hanya sepertiga dari biaya bangunan jika itu dikerjakan oleh kontraktor luar.
Juga unggul dari segi efisiensi waktu. Contohnya, ketika merencanakan Masjid Al-Hayat hanya membutuhkan waktu satu pekan, pelaksanaan pembangunannya pun hanya 100 hari. Bandingkan dengan kebiasaan di tempat lain, untuk perencanaan bangunan saja paling tidak membutuhkan waktu dua kali dari lama pelaksanaan pembangunan bangunan itu sendiri.
Dengan penghematan itu, dana bisa dipergunakan untuk membeli bahan-bahan material yang berkualitas. Dalam hal ini, tanmiyah sangat selektif memilih bahan material. Sebagaimana dijelaskan oleh Djamal M Abdat, Rois ‘am Tanmiyah, yang bertanggung jawab terhadap pembangunan fisik secara keseluruhan, bahwa pihaknya tidak mau menggunakan bahan yang tidak berkualitas.
Dalam hal pengadaan material pun selalu dibeli dalam partai besar, sehingga biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih murah. Biasanya, pembelian tidak hanya untuk kebutuhan satu proyek bangunan. Sebab pembangunan di ma’had ini terus berlanjut sampai kebutuhannya tercakup. Maka, tatkala membeli besi atau baja, atau material jenis lain, tidak pernah khawatir akan terbuang, pasti dimanfaatkan.
Selain itu, yang juga membuat murah, semua bahan-bahan dibeli dalam bentuk bahan baku. Bahan baku atau bahan mentah itu kemudian diolah kembali oleh karyawan-karyawan ma’had yang memang sudah berpengalaman. Besi dan baja dipabrikasi sendiri, lalu erection juga dilakukan sendiri. Begitu pula untuk bahan-bahan perkayuan. Semua komponen bangunan seperti daun pintu, kusen, furniture dan khususnya isi bangunan (meja, kursi, papan tulis dan partisi) dikerjakan sendiri.
Dengan sistem manajemen seperti itu, setiap bangunan yang didirikan di MAZ memenuhi persyaratan pokok berdaya tahan lama. Setiap bangunan itu harus cukup kuat dan berkemampuan memikul beban dalam jangka waktu lama. Kekuatan itu dirancang dengan penggunaan kekuatan elemen-elemen (material) konstruksi berkualitas dan proses pengerjaan yang telaten dan cerdas.
Dalam hal sumber daya manusia, pada waktu proyek dimulai, hanya sembilan orang. Kemudian sesuai dengan kebutuhan pembangunan kini telah mencapai lebih 2.500 orang. Terbagi dalam 28 unit karyawan, masing-masing fungsinya berbeda. Jumlah ini tidak statis tapi dinamis artinya bisa berubah sesuai kebutuhan. Bisa bertambah bisa berkurang. Jika pekerjaan di suatu unit sudah selesai maka karyawannya akan diperbantukan ke unit lain yang sedang mengejar target penyelesaian.
Seluruh karyawan tinggal di sekitar lokasi proyek. Setiap pagi mereka menerima amanah dari insinyur pelaksana. Malam hari, melakukan evaluasi tentang progres yang telah dicapai. Sehingga setiap saat, semua pekerjaan menjadi terkontrol. Hampir tidak ada mandor yang harus berada di lokasi proyek setiap saat. Artinya, walaupun pimpinan unit sedang tidak ada di lokasi proyek, seluruh program harian tetap berjalan semestinya. “Mandor mereka adalah Alquran, di tangan mereka alat kerja, di kantong mereka ada Alquran, minimal kitab Juz’ Amma”, kata Syaykh al-Ma’had. Mungkin saat ini, sistem ini satu-satunya di Indonesia atau bahkan di dunia.
Setiap pekerja mendapat kesempatan untuk bekerja di semua unit. Dengan demikian semua karyawan diharapkan punya keahlian yang bermacam-macam. Suatu saat mereka mengaduk semen, pada saat lain mereka juga harus bisa mengemudikan dozer atau membuat furniture. Besok bisa jadi tukang batu, lusa bisa di kantor memegang komputer. Jadi, harus di-rolling supaya hidup, tidak membosankan. Di sini setiap unit sama, tidak ada yang lebih tinggi atau rendah antara petugas yang mengecor, menyapu atau yang duduk di depan komputer. Semua nilainya sama, yang membedakan adalah ketaqwaan.
Pengadaan dan Pemanfaatan Material
Kualitas bangunan juga dimulai dari perencanaan material. Kekuatan bangunan bergantung kepada kekuatan elemen-elemen (material) konstruksi bangunannya. Untuk bangunan yang diprogram akan bertahan berabad-abad, bahan-bahan dasarnya harus berkualitas. Dan untuk lebih menjamin kualitas bahan-bahan material itu, sejak awal dilakukan kontrol mutu, mulai dari pengadaannya sampai pemanfaatannya.
Material konstruksi yang digunakan meliputi material baja profil, baja tulangan dan material beton yakni campuran material semen, pasir, kerikil dan air. Material arsitektur meliputi material untuk lantai dan tangga seperti keramik, untuk dinding berupa batu, cat, kayu, kusen, kayu pintu, jendela dan kaca. Adapula material untuk plafond seperti tripleks, gypsum serta material atap berupa genteng dan alumunium. Material plumbing meliputi instalasi pipa-pipa air bersih dan air kotor, pipa hidrant, kran wastafel, kloset, dan lainnya. Dan untuk material elektrikal meliputi instalasi kabel-kabel, pipa-pipa listrik, dan lampu-lampu.
Untuk baja konstruksi, digunakan baja tulangan dan baja profil yang masih harus didatangkan dari Korea, Jepang, Polandia dan Rusia. Soalnya, ketika pernah dicoba menggunakan baja WF lokal hasilnya sangat tidak memuaskan, belum apa-apa sudah melengkung. Baja tulangan yang digunakan berdiameter mulai 6 mm hingga 32 mm. Sedangkan untuk baja profil menggunakan bentuk-bentuk seperti wide flange (sayap lebar) berdimensi tinggi 200 mm hingga 450 mm, Canal Cnp berdimensi tinggi mulai 75 mm hingga 150 mm, siku berukuran 30 mm hingga 100 mm dan juga plat baja berukuran tebal mulai 2 mm hingga 15 mm.
Sedangkan untuk kekuatan lantai bangunan digunakan pelat lantai beton bertulang dengan kualitas betonnya 300 kg per cm persegi. Pelat lantai tersebut dipikul oleh balok lantai dengan menggunakan baja profil sayap lebar (wide flange) dengan kekuatan tegangannya bernilai 4.100 kg per cm persegi.
Suatu hal yang patut dicatat bahwa semua pengadaan material adalah bahan baku. Kemudian diolah sendiri menjadi bahan material jadi. Keperluan besi, misalnya, yang dibeli bahan baku, lalu dipabrikasi sendiri dan di-erection sendiri. Dalam pabrikasi baja baik pemotongan, pengelasan maupun pelubangan (pons) dan rolling plat baja seluruhnya menggunakan teknologi Ma’had sendiri. Teknologi pembesian memanfaatkan peralatan yang disebut bar cutter dan bar bending machine untuk memotong dan membengkokkan besi tulangan sesuai kebutuhan.
Semua itu dikerjakan sendiri oleh unit kerja pabrikasi yang bertanggung jawab mengenai konstruksi baja dan pembesian, dari mulai bahan baku sampai menadi bahan yang siap dipasang menjadi konstruksi bangunan di Ma’had Al-Zaytun. Untuk bisa memenuhi target yang diprogramkan oleh yayasan tepat waktu, sistem kerja yang diterapkan bagian pabrikasi berbeda dengan unit-unit yang lain yakni memberlakukan dua shift, bekerja 24 jam siang dan malam.
Di samping memberlakukan sistem kerja 24 jam, tenaga kerja unit pabrikasi pun mempunyai latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang pekerjaannya serta berpengalaman dalam pembesian sebelumnya.
Begitu pula dalam pemasangan konstruksi baja menggunakan alat power winch. Dalam pengeboran air menggunakan mesin bor sumur (drilling machine) pada submersible pump (pompa sumur dalam). Dalam pelaksanaan pondasi pun diterapkan teknologi modern yang dioperasikan tenaga sendiri.
Dimulai dengan penggalian tanah menggunakan excavator. Setelah itu tanah diangkut dengan dump truck ke suatu tempat. Selanjutnya tanah diratakan dengan dozer sebelum dilakukan pemadatan oleh vibrator hingga diperoleh daya dukung yang kuat. Pada saat pembetonan, tim memanfaatkan truck mixer untuk menuangkan beton siap pakai. Truk ini mengambil beton siap pakai tersebut dari batching plant (pembuatan beton masak) pembuat ready mix concrete yang juga dikerjakan sendiri di kompleks Ma’had.
Oleh Ch Robin Simanullang (Berita Indonesia 01)
Blog Link :
http://masjid-rahmatan-lil-alamin.blogspot.co.id/2015/06/masjid-rahmatan-lil-alamin-monumen.html
Berita Program JAMMAS
Masjid-Rahmatan-Lil-Alamin-Program-Jammas-01
Hingga awal April 2015 lebih dari 17 ribu orang berbondong-bondong datang ingin menjadi bagian dari penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin. Jarak, waktu, tenaga, dana, dan keluarga tak jadi soal. Jarak Aceh dan Indramayu pastilah tidak pendek. Jika menggunakan bus memakan waktu yan tidak singkat. Perlu tiga sampai empat hari perjalanan. Namun, bagi T.Puteharys, jarak tak menjadi masalah. Meski usianya sudah tak lagi muda, hampir mendekati 70 tahun, kakek ini tetap antusias dan semangat datang ke Al-Zaytun. Tujuannya hanya satu, ikut menyukseskan program JAMMAS.
Bersama 15 orang Aceh, Sabtu 28 Pebruari 2015 saat tiba di Al-Zaytun, tak mengenal lelah setelah menempuh perjalanan ribuan kilometer, Puteh yang kakinya (maaf) sudah tidak berfungsi dengan baik, harus dibantu kursi roda, langsung tawaf, berkeliling dengan menaiki lebih dari 300 anak tangga mulai lantai pertama sampai puncak Masjid Rahmatan Lil Alamin yang berlantai tujuh itu.
Puteh hanyalah satu dari ribuan orang sejak program JAMMAS disosialisasikan akhir tahun 2014. Tua, muda, laki-laki dan perempuan, beragam profesi, dari pedagang, pengusaha, guru, ibu rumah tangga, pegawai negeri, petani, mahasiswa, pegawai kantor dan lain sebagainya selama program JAMMAS “diluncurkan” tumplek blek seperti semut mendatangi gula ke Al-Zaytun.
Hingga awal April 2015 tercatat 17.254 orang datang ke Al-Zaytun menyatakan memberikan dukungan dan ambil bagian terhadap pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin. Jumlah ini dipastikan akan terus meningkat mengingat sampai detik ini masih banyak masyarakat yang antusias andil dalam program JAMMAS.
Melihat data pada pekan pertama April 2015 itu, rata-rata setiap bulan empat ribu orang lebih ke Al-Zaytun untuk menjadi bagian dari program JAMMAS. Mereka datang berombongan, puluhan, belasan bahkan ratusan orang. Jika tidak mempunyai keinginan yang kuat dalam diri, mustahil ini terjadi. Apalagi mereka datang dari berbagai tempat di seluruh nusantara, Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi sampai negeri jiran Malaysia.
Padahal program JAMMS ini tidak diumumkan melalui media cetak, televise ataupun radio. Hanya lewat mulut ke mulut, atau getok tulas, namun animo masyarakat ternyata sangat tinggi. Bayangkan betapa dasyatnya jika melalui media masa. Ini membuktikan tak susah mengajak masyarakat untuk berjalan direl kebaikan.
Masjid-Rahmatan-Lil-Alamin-Program-Jammas-02
Ketika tulisan ini dibuat pertengahan April 2015, setiap pekannya masih ratusan orang datang untuk berpartisipasi menyelesaikan Masjid Rahmatan Lil Alamin. Ini bukan berarti menunjukan adanya penurunan dibandingkan pada awal-awal program JAMMAS digemakan yang setiap harinya ratusan orang datang untuk menafkahkan harta demi cita-cita terwujudnya tempat ibadah umat Islam yang megah, tetapi lebih kepada rencana pada September 2015 ini sebanyak 22.000 orang harus sudah siap mendonasikan hartanya. Artinya tak sampai lima ribu orang. Artinya pada bulan April 2015 sudah mencapai 17.000 berarti tak sampai lima ribu orang rencana 22.000 orang akan dicapai. Dan jika dihitung dari April masih ada waktu lima bulan lagi sampai bulan Sembilan.
Kenapa untuk menjadi donatur saja kok mesti ke Al-Zaytun? Mengapa bukan uangnya saja yang “mendatangi”? Praktis dan gampang. Tak perlu repot. Jika berpikir sederhana memang begitu. Akan tetapi ini bukan hanya soal uang. Uang memang diperlukan, akan tetapi bertemu sesama donatur dan melihat langsung Masjid Rahmatan Lil Alamin yang berdiri kokoh juga sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar. Dari melihat langsung Masjid yang akan menjadi kebanggaan umat Islam inilah rasa memiliki akan timbul. Dan semakin menjadi mengerti betapa besarnya umat Islam. “Saya benar-benar terkesima setelah sampai di puncak Masjid Rahmatan Lil Alamin,” kata Safi’ih Arep, donator dari Tangerang dengan suara tersendat-sendat menahan haru.
Ribuan “Safi’ih” mengalami “sesak nafas” dan tak bisa berkata-kata karena terpana. Kondisi ini sulit terjadi jika mereka tak memiliki girah / semangat terhadap program JAMMAS. Untuk sampai di Al-Zaytun banyak hal yang mesti dipertimbangkan (dalam makna positif), waktu harus diatur agar tak bebenturan dengan kegiatan yang lainnya, tenaga mesti dipersiapkan agar tetap fit setelah menempuh perjalanan jauh. Tak jarang pekerajaan juga harus ditinggalkan untuk sementara. Itu hanya diantaranya. Tetapi jiga kemudian para donator ini rela mengorbankan semua yang sudah menjadi rutinitasnya, jawabnya apalagi kalau bukan karena antusias menyambut program JAMMAS.
Paling tidak untuk mengikuti kegiatan program JAMMAS ini para donator memerlukan waktu satu hari dua malam, jika berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Misalnya, dari Jakarta Sabtu malam, maka pada Ahad mereka akan mengikuti kegiatan program JAMMAS seperti tawaf, silahturahim denga Syaykh Al-Zaytun dan menyampaikan jumlah dana yang akan dishadaqahkan. Ahad malamnya baru bertolak ke Jakarta. Bayangkan jika mereka datang dari Jogja, Jawa Tengah, Jawa Timur atau daerah lain di luar Jawa. Pastilah membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Bahkan agar tak sampai terlambat mengikuti acara seringkali para donator ini datang lebih awal. Seperti 15 orang calon dinatur dari Jambi. Diagendakan mengikuti acara pada Ahad 29 Maret, namun mereka tiba sehari sebelumnya. Waktu menunggu seharti tak disia-siakan, hal ihwal yang ada di Al-Zaytun “ditunjau”, Masjid Rahmatan Lil Alamin tentulah menjadi tempat “favorit” yang dilhat. Apalagi maksudnya kalau bukan semakin menumbuhkan semangat dan meneguhkan niat.
Masjid-Rahmatan-Lil-Alamin-Program-Jammas-03
Soal antusias merespon program JAMMAS ini juga datang dari Priyagung Sambodo yang tak kalan serunya. Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta yang berusia 21 tahun ini begitu mendengar rencana penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin, jiwanya langsung tergerak, bak pesan berantai teman-temannya dihubungi diberikan informasi. Perjuangannya tak bertepuk sebelah tangan, taman-temannya menyambut penuh semangat. Jadwal untuk berangkat ke Al-Zaytun pun dibuat. Semua sepakat 1 Februari. Maka hari pertama Februari yang jatuh pada Ahad itu seakan menajdi ajang pembuktian bagi Agung dan teman-temannya sesame mahasiswa di Yogyakarta terlibat dalam penyelesaian Masjid Rahmatan Lil Alamin.
Cerita lain datang dari istri-istri relawan Al-Zaytun yang berdomisili di luar Indramayu. Sebagai pendamping suami yang dalam istilah jawa kerap disebut suargo nunut, neroko katut tak mau ketinggalan mengikuti jejak sang suami yang telah lebih dulu mengikti program JAMMAS. Contohnya, Nyonya Warsun, ibu empat anak ini yang sehari-harinya bekerja di salah satu perusahaan yang lumayan bonafit di Jakarta. Ketika mengajukan cuti beberapa hari akan mengikuti acara program JAMMAS, sang manajer menolak scara halus dengan memberikan iming-iming akan di bayar lebih besar jika cuti tidak dilakukan. Namun Nyonya warsun tetap tidak bergeming. Program JAMMAS didahulukan imbalan besar sang manajer diabaikan.
Malah, beberapa orang istri relawan yang juga bertempat tinggal jauh dari Indramayu begitu tiba di Al-Zaytun sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan tak bisa langsung mengikuti acara. Mereka harus pulang karena acaranya ditunda. Kalau tidak memiliki jiwa besar untuk menjadi bagian pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin pastilah akan patah arang. Tetapi itu tidak terjadi, mereka tetap datang lagi begitu diundang. Dengan ikhlas dan Antusias menyambutProgram JAMMAS.

Web Pusat : http://rahmatanlilalamin.id/

Blog Terkait :
http://masjid-rahmatan-lil-alamin.blogspot.co.id/2015/06/ikhlas-dan-penuh-antusias-menyambut.html

Galery Foto FB Pembangunan RLA :

https://web.facebook.com/mahayusemesta/photos_all

 

KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN

( Komunitas Pengkaji Penghayat Dan Pengamal Al-Qur’an )

Silahkan Bergabung Di GROUP Masing Daerah Dengan Klik  Link Di bawah Ini :

KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Banda Aceh  Aceh Sumatera,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Denpasar  Bali Kepulauan Nusa Tenggara,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Serang  Banten Jawa,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Bengkulu  Bengkulu Sumatera,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Gorontalo  Gorontalo Sulawesi,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Jakarta  Jakarta Jawa,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Jambi  Jambi Sumatera,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Bandung  Jawa Barat Jawa,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Semarang  Jawa Tengah Jawa,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Surabaya  Jawa Timur Jawa,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Pontianak  Kalimantan Barat Kalimantan,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Banjarmasin  Kalimantan Selatan Kalimantan,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Palangkaraya  Kalimantan Tengah Kalimantan,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Samarinda  Kalimantan Timur Kalimantan,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Tanjungselor  Kalimantan Utara Kalimantan,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Pangkalpinang  Kepulauan Bangka Belitung Sumatera,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Tanjung Pinang  Kepulauan Riau Sumatera,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Bandar Lampung  Lampung Sumatera,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Ambon  Maluku Kepulauan Maluku,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Sofifi  Maluku Utara Kepulauan Maluku,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Mataram  Nusa Tenggara Barat Kepulauan Nusa Tenggara,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Kupang  Nusa Tenggara Timur Kepulauan Nusa Tenggara,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Jayapura  Papua Papua,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Manokwari  Papua Barat Papua,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Pekanbaru  Riau Sumatera,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Mamuju  Sulawesi Barat Sulawesi,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Makassar  Sulawesi Selatan Sulawesi,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Palu  Sulawesi Tengah Sulawesi,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Kendari  Sulawesi Tenggara Sulawesi,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Manado  Sulawesi Utara Sulawesi,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Padang  Sumatera Barat Sumatera,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Palembang  Sumatera Selatan Sumatera,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Medan  Sumatera Utara Sumatera,
KP3A – RAHMATAN LIL ‘ALAMIIN Yogyakarta  Yogyakarta Jawa,

Indahnya berbagi informasi, yuk click and share ke seluruh sahabat Anda, icon-icon di bawah ini :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •